MY Love

My love, leave yourself behind Beat inside me, leave you blind My love, you have found peace You were searching for relief You gave it all, gave into the call You took a chance and You took a fall for us You came thoughtfully, loved me faithfully You taught me honor, you did it for me Tonight you will sleep for good You will wait for me my love Now I am strong (Now I am strong) You gave me all You gave all you had and now I am home My love, look what you can do I am mending, I'll be with you You took my hand added a plan You gave me your heart I asked you to dance with me You loved honestly Did what you could release I know you're pleased to go I won't relieve this love Read more...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Looking Into the deeper Dimension

There is one of my favorite routine now, join yoga’s class every twice a week after office hour. The reasons I had joined this class are breath practicing and also trying to train the balance between mind and body. In one day, I had
spent 8 hours or more in office, doing my tasks and surely facing many problems. And almost every night I couldn’t sleep well, always have a”heavy” dream. I mean ‘heavy’ here is the dream which is so clear until sometimes I couldn’t differ between the real world and the dream world. (Huff…)
So that, in mention above becomes my majority reason, why I had chosen yoga class, I would like to know more about what is the philosophy of YOGA?
Based on Timoty Burgin on his book “Yoga Basic” states that the main philosophy of yoga is simple: mind, body and spirit are all one and cannot be clearly separated. Yet there is a multitude of philosophical ideas developed by looking into the deeper dimensions of the body, mind and spirit.
There are eight-fold path of yoga lays the Yamas, the beginning is Patanjali, the moral, ethical and societal guidelines for the practising yogi, all express in the positive, and thus become emphatic descriptions of how a yogi behaves and relates to her world when truly immersed in the unitive sate of yoga. Patanjali considered the Yamas the great, mighty and universal vows. He instructs us that they should be practiced on all levels (actions, words, and thoughts) and that are not confined to class, place, and time or concept of duty (YS 2.31).
Ahimsa is the practice of non-violence, which includes physical, mental, and emotional violence towards others and the self. Compassion is the ability to accept events as they are with an open and loving heart. It is a letting go of reacting to a situation in a conditional and negative way, and replaces those thoughts or feelings with kindness, acceptance and love. At first practicing compassion is hard, frustrating and not fun. But the key is to have compassion for oneself for not having compassion, and to smile at this contradiction.
Satya (truthfulness) urges us to live and speak our truth at all times. Living in your truth not only creates respect, honor and integrity but also provides the vision to clearly see the higher truths of the yogic path.
Asteya (non-stealing) is best defined as not taking what is not freely given. On a personal level the practice of Asteya entails not committing theft physically and/or not causing or approving of anyone else doing so--in mind, word, or action. While not easy, practicing Asteya encourages generosity and overcomes Lobha (greed). And as Patanjali tells us, “when Asteya is firmly established in a yogi, all jewels will become present to him/her.” (YS 2.37).
Brahmacharya (continence) states that when we have control over our physical impulses of excess, we attain knowledge, vigor, and increased energy. To break the bonds that attach us to our excesses and addictions, we need both courage and will. And each time we overcome these impulses of excess we become stronger, healthier and wiser. One of the main goals in yoga is to create and maintain balance. And the simplest method for achieving balance is by practicing Brahmacharya, creating moderation in all of our activities.
Aparigraha (non-coveting) urges us to let go of everything that we do not need, possessing only as much as necessary. The yogis tell us that worldly objects cannot be possessed at all, as they are all subject to change and will be ultimately destroyed. When we become greedy and covetous we lose the ability to see our one eternal possession, the Atman, our true Self. And when we cling to what we have we lose the ability to be open to receive what we need.
So that, in our full activities, I think it is a good idea to spend our precious time to join yoga's class. For a moment to forget everything, problems and enter a new dimension in getting a new spirit to face to next day.
Namaste...
Read more...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

HARI YANG INDAH...

Lelahku ku menggantung di pikiran, otak-ku bahkan hatiku.
Kaki sudah memberontak seakan mau berteriak
BERHENTI!.... ku tak mau berjalan lagi
Otak-ku kusut tak mau menerima respon
karena terlalu banyak yang dijejalkan
disimpan, dianalisa, di proses
dan dimuntahkan lagi.

Pikiranku buntu...

buntu....

tak mau maju apalagi mundur

Tapi, diujung sana senyum manisnya memanggilku

lesung pipitnya menarikku untuk tetap maju, berjalan lagi

apapun yang terjadi sekarang.

Kucoba tarik semangatku lagi, kupompa

ya aku punya alasan untuk semua ini.

kupegang tangannya erat-erat,

katanya,"Aku punya obat dibadanku, kalau Ibu peluk aku, capeknya Ibu pasti sembuh".

Tersenyum kupeluk dia, ya...buatnya semua akan kujalani, buatnya lelahku tak ada arti, buatnya semua tangis akan berubah menjadi tawa..

I Love U, my sunshine.... you are the best in my life.

Read more...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

SUTRADARA CILIK

Sekarang di rumah sudah ada sutradara cilik. Tahu kan? kalau tugas sutradara di sebuah produksi film, berarti dia harus mengarahkan akting si aktor/aktris, mulai dari gerak-gerik sampai apa yang harus diucapkan. Nah itu juga sekarang yang sedang banyak terjadi dirumah. Dan sutradara cilik itu pastilah anakku.
Si kecil sekarang sudah berumur 4 tahun, dan menurutku untuk balita seumur dia, kosakata yang sering dipakai cukup banyak, mungkin pengaruh dari seringnya membaca buku bersama atau pada waktu menonton film.
Dan tak jarang dia menanyakan arti kata-kata yang dia kurang mengerti maknanya dan aku juga berusaha menjelaskan dengan bahasa anak-anak versinya, meskipun terkadang kata-kata yang ditanyakan agak sulit mencari padanannya dalam bahasa kanak-kanak.
Namun, yang paling membuatku selalu tersenyum adalah hobi-nya menjadi sutradara.
Dalam setiap permainan apapun, si kecil selalu berusaha mengarahkan kami tentang apa yang harus diucapkan dan dengan mimik yang bagaimana.
Suatu ketika dia sedang bermain jual-jualan, kebetulan aku dan si kecil suka sekali dengan bakso kepala sapi. Nah saat itu dia sedang berperan sebagai penjual bakso kepala sapi. Seluruh peralatan makan-ku dia keluarkan dan mulai digelar sesuai dengan imajinasinya.
Mulailah sang sutradara, katanya,"Bu, nanti ibu beli bakso kepala sapi ya, bilang gini pak, beli bakso kepala sapi-nya ya, dimakan disini, baksonya 3 pakai sambel"!
"Oke", kataku.
"Pak, beli baksonya ya? makan sini, baksonya 3 pakai sambel", ulang-ku.
"Iya, tunggu ya", katanya
Segera si kecil sibuk menyiapkan seporsi bakso di mangkok plastikku.
"Ini baksonya, silahkan", katanya.
"Terima kasih", kataku
"Sama-sama",jawabnya.
Setelah pura2 aku makan, aku kembalikan mangkoknya sambil berkata,"ini pak, sudah".
"Lho jangan bilang gitu bu, bilang gini, Wah baksonya enak pak, sedap. Terima kasih banyak", katanya.
"Wah, baksonya enak pak, sedap. Terima kasih banyak", kataku.
"Sama-sama".
Belum selang 1 menit, "lho ibu kok ga kepedesan, bilang gini, wuih baksonya pedhes, pak beli es tehnya ya? gitu lho bu", katanya.
Dan aku ulangi apa yang dia minta.
.....
Si kecil semakin hari semakin banyak kulihat perbedaannya. Semakin mengerti dan semakin mampu memahami apa yang ada disekelilingnya. Dan kuamati, sekecil apapun perubahan pada tingkah laku atau perkataan pada orangtuanya selalu dia bertanya, "Mengapa?"
Selain itu, dia sudah pandai mengungkapkan kebutuhannya, keinginannya, cita-citanya dan apa yang ada dipikirannya. Kami-pun berusaha memberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya, dan semua hal kami coba sampaikan bahwa ada konsekuensi-nya. Apa yang dia lakukan buruk dan merugikan pasti hasil nya juga tak enak, begitu juga sebaliknya. Untuk hal ini aku memakai kebiasaan poin dan reward, prestasi-prestasi kecil dirumah seperti mau membantu bersih-bersih, makan dihabiskan, dll akan kami berikan reward agar si kecil lebih semangat dan percaya diri. Apabila dia melanggar kesepakatan, reward akan diambil, begitu seterusnya.
Selain itu kami terbiasa selalu berkomunikasi tentang apa yang kami rasakan. Dirumah aku berusaha menjadi ibu, kakak dan teman bagi si kecil. Rasa senang, sedih, sakit, kecewa, disakiti, gembira atau apapun itu kami mampu untuk membagi satu sama lain.
Jadi teringat satu puisi yang pernah kubaca.
Your children are not your children
they are the sons and daughters of life's longing for itself
they came through you but not from you
and through they are with you yet, they belong not to you.
You may give them your love, but not your thoughts
for they have their own thoughts.
you may house their bodies but not their souls
for their soul dwell in the house of tomorrow which
you can not visit, not even n your dream
you may strive to be like them, but seek not to make them like you
for life goes not backwards nor tarries with yesterday
you are the bows from which your children as
living arrows are sent forth
("On Children" taken from The Prophet Kahlil Gibran 1923)
Harapan-ku sejak di dalam perut, sampai sekarang tetaplah sama, semoga si kecil- menjadi pribadi yang mengerti. Amieenn... I love u .. always and forever.
Read more...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

THE POWER OF A DREAM

Deep within each heart - There lies a magic spark That lights the fire of our imagination
And since the dawn of man - The strenght of just "I can"
Has brought together people of all nations
Your mind will take you far - The rest is just pure heart
You’ll find your fate is all your own creation
Every boy and girl - As they come into this world
They bring the gift of hope and inspiration
Feel the flame forever burn - Teaching lessons we must learn To bring us closer to the power of the dream
As the world gives us its best - To stand apart from all the rest
It is the power of the dream that brings us here The world unites in hope and peace - We pray that it will always be It is the power of the dream that brings us here
There’s nothing ordinary - In the living of each day There’s a special part - Every one of us will play
There’s so much strength in all of us - Every woman child and man
It’s the moment that you think you can’t - You’ll discover that you can
The power of the dream The faith in things unseen The courage to embrace your fear No matter where you are To reach for your own star To realize the power of the dream
Read more...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

RANAH 3 WARNA

Ada satu lagi buku yang menjadi favoritku, yaitu Ranah 3 Warna karya A Fuadi. Sebetulnya ini adalah buku kedua dari Trilogi Negeri 5 Menara, jadi baik buku pertama maupun buku kedua sudah menjadi favorit.
Kedua buku ini ditulis oleh A.Fuadi, mantan wartawan TEMPO dan VOA, penerima 8 beasiswa luar negeri, penyuka fotografi, dan terakhir menjadi Direktur Komunikasi disebuah NGO konservasi. Alumni pondok modern Gontor, HI Unpad, George Washington University, dan Royal Holloway, University of London.
Buku ini dimulai dari seorang anak yang bernama Alif, yang menuruti nasihat ibunya untuk belajar ilmu agama di pondok, meskipun tidak sesuai dengan kata hatinya yang saat itu ingin masuk di sekolah umum. Dia yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki kemanapun selain tanah Minangkau kelahirannya akhirnya memulai petualangan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya bersama kawan-kawan karib se-pondoknya.
Di pondok Madani bersama dengan kawan-kawannya yaitu Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa, mereka belajar mengenai banyak hal. Dibawah bimbingan para ustadnya, Alif belajar tentang “mantera” sakti man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Dan dibawah menara masjid Pondok Madani inilah mereka mulai menggelar mimpi-mimpi mereka sambil menatap awan-awan lembayung yang menjelma menjadi Negara dan benua impian mereka masing-masing.
Di buku kedua, Ranah 3 Warna, Alif akhirnya mampu membuktikan bahwa meskipun tidak dari sekolah umum-pun, dia mampu melanjutkan ke UMPTN dan masuk di salah satu universitas di Bandung, bahkan dengan kerja keras dan kesabarannya dia mampu menginjakkan kaki ke benua Amerika sebagai wakil budaya dari Indonesia.
Banyak hal yang bisa diambil pelajaran dari kisah ini, salah satunya: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apapun, karena Tuhan sungguh Maha Mendengar. Dan apabila membaca tentang perjuangan Alif yang harus jatuh bangun mulai bekerja dari sales door to door untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari sampai akhirnya menjadi wartawan lepas, selalu berusaha diatas rata-rata orang lain, rasanya begitu berat namun akhirnya hasilnya mampu menebus semuanya. Dan semua itu karena tidak saja menerapkan man jadda wajada tetapi juga man shabara zhafira.
Tidak semua orang memang berani bermimpi, apalagi disaat ini di kondisi yang serba sulit, sehingga memangkas habis percaya diri dan harapan untuk lebih maju. Namun membaca kisah ini mengingatkan saya pada kisah yang hampir serupa seperti Laskar Pelangi. Ya, memang banyak memberikan inspirasi bagi pembaca agar tak gentar untuk selalu berusaha lebih baik, dan membuat saya menjadi lebih berani bermimpi.
Hidup di dunia memang hanya sementara, karena ada kehidupan lain yang lebih nyata, Namun apabila tak mengisinya dengan hal-hal positif dan selalu optimis apa akhirnya yang harus ditulis di buku kehidupan nantinya?
Sukses buat semua….^_^
Read more...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments